livefortunately

Analisis dan Berita Keuangan Terkini

Beranda » Pinjol Makin Marak: 3 Tanda Peringatan Kamu Udah Terlilit Utang Sebelum Tenggelam Semakin Dalam

Pinjol Makin Marak: 3 Tanda Peringatan Kamu Udah Terlilit Utang Sebelum Tenggelam Semakin Dalam

Gue punya temen, sebut saja Dimas. Usia 27 tahun, kerja di perusahaan swasta, gaji UMR plus. Tampangnya biasa aja, tapi style-nya? Wah. Sepatu limited edition tiap bulan. Jaket brand Korea. Nongkrong di kafe hits tiap akhir pekan.

Suatu hari gue iseng nanya, “Dim, gaji lo berapa sih? Kok bisa beli barang mahal mulu?”

Dia senyum. Agak canggung. “Ya gitu deh, Man. Ada aja jalannya.”

Gue nggak ngeh. Gue kira dia punya bis sampingan.

Sampai suatu malem, jam 11, HP gue berdering. Dimas. Suaranya beda. Nggak kayak biasanya. “Man, gue pinjam dulu ya 500 ribu. Bayar besok. Darurat.”

Gue transfer. Besoknya dia bayar. Tapi seminggu kemudian, dia minta lagi. 1 juta. Terus 2 juta. Polanya sama: darurat, bayar cepat, lalu minta lagi lebih besar.

Gue mulai curiga. “Dim, lo punya utang di pinjol?”

Diem. Lama. “Iya, Man. Tapi bentar lagi lunas.”

Itu 6 bulan lalu. Sekarang Dimas masih berjuang. Utangnya bukannya lunas, malah nambah. Bunga berbunga. Dan yang paling gue liat: dia berubah. Nggak pernah update medsos. Jarang keluar. Kalau ketemu, matanya sayu, kayak orang kurang tidur.

Dimas bukan cerita isolasi. Dia adalah representasi dari jutaan anak muda Indonesia yang sekarang terjebak dalam lingkaran setan pinjaman online.

OJK mencatat, per November 2024, outstanding pinjaman online mencapai Rp73,24 triliun dengan jumlah rekening penerima pinjaman 122,41 juta . Iya, juta. Itu artinya, hampir separuh penduduk Indonesia punya utang di pinjol.

Yang lebih mengerikan: pinjol ilegal jumlahnya 3 kali lipat dari yang legal. Dan bunga mereka? Bisa sampai 0,8% per hari! Kalau lo minjem 1 juta, sebulan kemudian udah 1,24 juta. Setahun? Hitung sendiri .

Tapi gue nggak mau cuma kasih data. Karena masalah pinjol bukan cuma masalah angka. Ini masalah psikologis. Ini tentang bagaimana utang bisa mengubah cara lo berpikir, merasa, dan bertindak.

Ini dia 3 tanda peringatan yang sering diabaikan. Bukan cuma soal tagihan menumpuk, tapi soal alarm mental yang bunyi tapi sering kita matikan.


Tanda #1: Lo Mulai Kehilangan “Rasa” dari Uang

Ini yang paling awal, paling halus, dan paling susah disadari.

Coba lo ingat: dulu, pas lo beli sesuatu pake uang cash atau debit, lo ngerasa “sakit” nggak? Kayak ada something yang ilang. Itu namanya pain of paying. Secara psikologis, otak kita memang dirancang buat ngerasa “kehilangan” waktu kita ngeluarin uang.

Tapi pas lo mulai bayar pake pinjol? Rasa sakit itu ilang.

Lo nggak ngerasa ngeluarin uang. Lo cuma liat angka di aplikasi. “Ah, cicil 500 ribu aja per bulan, santai.” Padahal, 500 ribu itu adalah uang masa depan lo. Uang yang belum lo punya. Tapi lo treat it kayak uang receh.

Ini tanda pertama: Ketika lo udah nggak bisa membedakan antara “uang beneran” dan “angka di aplikasi”. Ketika lo nggak ngerasa sakit pas belanja. Ketika semua terasa mudah karena “bisa dicicil”.

Gue ngobrol sama psikolog temen gue, namanya Rani. Dia bilang: “Pasien saya yang terlilit utang biasanya punya pola yang sama. Mereka kehilangan hubungan fisik dengan uang. Uang jadi abstrak. Tinggal gesek, tinggal klik. Nggak ada sensasi ngitung lembaran, nggak ada sensasi ngasih ke kasir. Akibatnya, kontrol diri luntur.”

Studi kasus: Coba liat Dimas. Dulu dia beli sepatu 2 juta, mikir 3 hari. Sekarang? Lihat sepatu 3 juta, langsung checkout pake pinjol. Nggak mikir. Nggak ngerasa. Besoknya baru sadar: “Wah, gue ngapain?”


Tanda #2: Lo Mulai “Iris” Utang, Bukan Melunasinya

Ini nih yang sering banget terjadi. Dan ini adalah jebakan paling kejam dari pinjol.

Istilahnya: utang digali lubang, ditutup lubang. Lo minjem di Pinjol A buat bayar Pinjol B. Terus minjem di Pinjol C buat bayar Pinjol A. Terus muter-muter kayak tupai.

Secara nominal, total utang lo mungkin sama. Tapi secara psikologis, lo ngerasa “aman” karena nggak ada yang telat. Padahal, lo cuma mindahin utang dari satu lubang ke lubang lain.

Ini tanda kedua: Kalau lo udah mulai ngebedain “utang baik” dan “utang jahat”. Pinjol A bunganya lebih kecil, jadi ini “utang baik”. Pinjol B bunganya gede, harus cepet dilunasi pake Pinjol C. Lo jadi kayak manajer keuangan yang sibuk ngatur utang, padahal aset lo kosong.

Gue dulu pernah ngalamin ini (skala kecil). Waktu kuliah, gue punya utang di dua tempat. Setiap dapet uang, gue bingung: bayar yang mana dulu? Akhirnya gue bayar yang paling kecil, biar “legaan”. Tapi yang gede bunganya makin numpuk. Itu salah. Tapi otak lo suka yang instan: “Ah, lunas satu dulu, seneng.”

Data: OJK nyatet, rata-rata pengguna pinjol punya utang di 3-4 aplikasi berbeda . Dan 60% dari mereka mengaku “memutar” utang buat bayar utang lain . Itu artinya, mereka udah masuk zona merah tapi nggak sadar.

Studi kasus: Dimas punya 6 pinjol aktif. Tiap bulan, dia pusing ngatur jadwal bayar. Kadang dia minjem di pinjol baru buat nutup pinjol lama yang jatuh tempo. Katanya, “Yang penting nggak telat, Man.” Padahal, total utangnya malah nambah karena bunga.


Tanda #3: Lo Mulai Menghindari Notifikasi dan Telepon

Nah, ini tanda yang paling kentara. Tapi ironisnya, ini juga yang paling sering diabaikan.

Coba lo cek HP lo. Apakah lo:

  • Males buka aplikasi pinjol karena takut liat tagihan?
  • Sering pura-pura sibuk pas ada telepon dari nomor nggak dikenal?
  • Nggak berani buka notifikasi email?
  • Tidur tapi gelisah, kebangun mikirin utang?

Kalau iya, selamat: alarm mental lo udah bunyi kencang. Tapi lo milih matiin.

Secara psikologis, ini namanya avoidance coping. Otak lo milih menghindari masalah daripada menghadapinya. Karena menghadapi utang itu sakit. Ngeliat angka yang membengkak itu stres. Jadi lo pura-pura lupa. Scroll TikTok biar lupa. Main game biar lupa. Tidur biar lupa.

Tapi utang nggak pernah lupa. Dia tetep ada. Bunganya tetep jalan. Dan setiap lo menghindar, beban psikologisnya makin berat.

Dr. Rani bilang: “Pasien saya yang terlilit utang berat biasanya punya gejala kecemasan kronis. Jantung berdebar tiap buka HP. Susah tidur. Mudah marah. Itu semua karena beban utang udah mengganggu sistem saraf otonom mereka.”

Data: Survei kecil-kecilan dari komunitas financial planner menyebutkan bahwa 80% orang dengan masalah utang pinjol mengalami gejala kecemasan sedang hingga berat. Dan 40% di antaranya nggak pernah cerita ke siapa pun karena malu.

Studi kasus: Dimas udah 3 bulan nggak buka aplikasi pinjol. Dia cuma bayar minimal tiap bulan, nggak pernah cek total utang. Katanya, “Takut, Man. Kalau gue buka, gue stres.” Padahal, dengan nggak buka, dia makin stres karena nggak tahu posisinya.


Tabel Tanda Peringatan: Level Bahaya Utang Pinjol

LevelTanda FinansialTanda MentalYang Terjadi
HijauBayar tepat waktu, 1 pinjolMasih bisa tidur nyenyakNormal, masih aman
KuningMulai “iris” utang, 2-3 pinjolCemas pas buka aplikasiWaspada, evaluasi
MerahMinjem buat bayar utang, >3 pinjolMenghindari telepon, susah tidurBahaya, butuh bantuan
HitamSudah kena denda, ditagih debt collectorPanik, depresi, putus asaDarurat, segera cari solusi

3 Kesalahan Umum yang Bikin Lo Makin Tenggelam

Gue lihat banyak orang—termasuk Dimas—jatuh ke lubang yang sama. Ini dia kesalahan-kesalahan itu.

Kesalahan #1: Ambil Pinjol Buat Gaya Hidup

Ini paling sering. Lo minjem buat beli HP baru, buat liburan, buat nongkrong di kafe hits. Alasannya: “Yang penting happy dulu, bayar nanti.”

Masalahnya: nanti nggak pernah datang. Yang datang cuma tagihan plus bunga. Dan kebahagiaan dari barang itu cuma bertahan 2 minggu. Sisanya? Stres.

Prinsip keuangan klasik: Jangan pernah berutang buat hal yang nilainya turun. HP turun harganya begitu lo buka segel. Liburan? Cuma kenangan. Mending nabung dulu, baru beli.

Kesalahan #2: Ambil Pinjol Buat “Darurat” yang Nggak Jelas Daruratnya

Banyak orang bilang, “Ini darurat, Man.” Tapi pas ditanya darurat apa, jawabnya: “HP gue bootloop, harus servis.”

Bootloop itu darurat nggak sih? Ya darurat sih, tapi skalanya beda sama operasi rumah sakit. Kalau bootloop, lo bisa pinjem HP temen, bisa ke warnet, bisa nunda. Tapi otak lo bilang: “Sekarang juga! Nggak bisa nunggu!” Akibatnya, lo ambil pinjol.

Definisi darurat yang bener: Kondisi yang mengancam nyawa atau penghasilan lo. Misalnya: lo dirawat di rumah sakit dan butuh uang muka. Atau motor lo satu-satunya rusak dan lo nggak bisa kerja kalau nggak ada motor. Itu darurat.

Kesalahan #3: Nggak Pernah Ngitung Bunga Efektif

Pinjol pinter banget marketing. Mereka nampilin bunga per hari yang kecil. “Cicil Rp5.000 per hari!” Kedengeran murah, kan?

Coba lo hitung setahun. Rp5.000 x 365 = Rp1.825.000. Itu kalau lo minjem 1 juta, berarti bunga setahun 82,5%! Jauh di atas bunga bank mana pun.

Cara ngitung bunga efektif: Kalau lo minjem 1 juta, total tagihan 1,2 juta dalam 30 hari, itu bunga 20% per bulan. Setahun? 240%. Gila.


3 Hal yang Bisa Lo Lakukan Sekarang

Gue nggak mau cuma kasih masalah. Ini solusi praktis buat lo yang mungkin udah di level kuning atau merah.

1. Buka Semua Aplikasi, Tulis Total Utang Lo

Ini paling susah tapi paling penting. Lo harus tahu posisi lo. Buka semua aplikasi pinjol. Catat:

  • Total utang
  • Bunga per bulan
  • Jatuh tempo
  • Denda (kalau ada)

Tulis di kertas atau Excel. Jangan cuma di kepala. Karena utang yang nggak ditulis cenderung diabaikan. Tapi kalau udah kelihatan angkanya, otak lo bakal lebih serius.

2. Prioritaskan Utang dengan Bunga Tertinggi

Ini financial advice klasik. Urutin utang lo dari yang bunganya paling gede ke paling kecil. Bayar minimal di semua, tapi fokuskan uang lebih buat lunasin yang bunganya gede duluan.

Kalau lo bingung, pake metode avalanche: lunasin yang bunganya tertinggi dulu. Karena itu yang paling nyeret.

3. Cari Bantuan, Jangan Sendirian

Ini yang paling sering dilupain. Orang malu cerita soal utang. Padahal, dengan cerita, beban psikologisnya berkurang.

Cerita ke temen terpercaya. Atau ke keluarga. Atau kalau udah parah, ke konselor keuangan. Bahkan ada komunitas online yang saling support buat lepas dari jeratan pinjol.

Kalau udah di level hitam (diteror debt collector, diancam), segera lapor ke OJK atau polisi. Pinjol ilegal sering pake cara-cara intimidasi. Itu ilegal. Lo punya hak dilindungi.


Jadi, Lo di Level Mana?

Gue nggak bisa jawab itu buat lo. Tapi lo bisa jawab sendiri.

Coba jawab jujur 3 pertanyaan ini:

  1. Apakah lo tahu persis berapa total utang lo hari ini? (Bukan perkiraan, tapi angka pasti.)
  2. Apakah lo tidur nyenyak tanpa kebangun mikirin tagihan?
  3. Apakah lo bisa berhenti minjem selama 3 bulan ke depan kalau lo mau?

Kalau jawaban lo “tidak” untuk salah satu dari tiga itu, alarm lo udah bunyi. Jangan dimatiin.

Pinjol itu alat. Bisa berguna, bisa menghancurkan. Sama seperti pisau. Tapi kalau lo udah mulai nggak bisa kontrol, pisau itu bisa melukai lo sendiri.

Dimas sekarang lagi proses konsolidasi utang. Dibantu keluarganya. Masih berjuang. Tapi setidaknya dia udah berhenti minjem. Udah buka aplikasi. Udah tahu total utangnya. Dan yang paling penting: dia udah berhenti lari.

Lo juga bisa. Tapi harus mulai dari sekarang. Bukan besok. Bukan bulan depan. Sekarang.


Gue tahu topik ini berat. Tapi gue nulis ini karena gue liat terlalu banyak Dimas-Dimas di sekitar kita. Anak muda yang sebenernya punya masa depan cerah, tapi terancam karena utang yang awalnya cuma “sedikit”.

Kalau lo punya pengalaman—entah sebagai penyintas utang, atau masih berjuang—bagi di kolom komentar. Mungkin cerita lo bisa ngebantu orang lain yang lagi di posisi yang sama. Karena kita lewatin ini bareng-bareng.

7gr3Of3T

Kembali ke atas