livefortunately

Analisis dan Berita Keuangan Terkini

Beranda » Investasi “Fractional Real Estate” Meledak: Beli Pecahan Apartemen Mewarah Hanya dengan Rp 500 Ribu, Inovasi atau Jebakan?

Investasi “Fractional Real Estate” Meledak: Beli Pecahan Apartemen Mewarah Hanya dengan Rp 500 Ribu, Inovasi atau Jebakan?

Bayangkan, Kamu “Punya” 0.001% Apartemen Mewah SCBD. Tapi Cuma di Aplikasi.

Iklannya menggoda banget, kan? “Jadi pemilik apartemen mewah mulai dari Rp 500 ribu!” Gak perlu utang bank, gak perlu bayar pajak tahunan yang gede. Tinggal download app, pilih unit, beli pecahannya. Rasanya kayak mimpi jadi kenyataan. Tapi… kamu beneran punya apartemen? Atau cuma punya harapan yang dibungkus keren?

Nggak usah jauh-jauh. Coba tanya ke dirimu sendiri: kalau suatu hari apartemen itu butuh renovasi besar, kamu punya suara nggak? Kalau ada yang mau nyewa, kamu bisa putuskan harganya? Bisa nggak kamu jual “kepingan” itu besok kalau butuh duit mendesak? Jawabannya seringkali: nggak, nggak, dan sulit.

Inilah yang harus dipahami dari investasi fractional real estate yang lagi meledak. Ini inovasi finansial yang bikin akses terbuka lebar. Tapi juga jebakan likuiditas dan ilusi kepemilikan yang dibungkus manis.

Kamu Bukan “Pemilik”. Kamu Investor Pasif Tanpa Kendali.

Analoginya gini. Beli rumah sendiri itu kayak beli motor. Bisa dipakai, bisa dijual, bisa dimodif. Beli pecahan apartemen? Itu kayak beli saham perusahaan taksi. Kamu dapat bagi hasil dari operasionalnya, tapi kamu nggak bisa ambil motornya, suruh sopirnya jalan ke mana, atau jual setangnya.

  1. Kasus Platform X: “Kepemilikan Digital” vs Sertifikat Fisik.
    Di platform ini, kamu beli “token” yang mewakili pecahan unit. Tapi sertifikat Hak Milik Apartemen (Strata Title) asli atas nama satu entitas hukum (biasanya PT khusus). Kamu cuma punya surat pernyataan kepemilikan di dalam app. Itu artinya, kalau platformnya bangkrut atau kena sengketa hukum, klaimmu sebagai “pemilik 0.001%” itu lemah di mata hukum. Kamu cuma kreditur, bukan pemilik properti. Ini beda fundamental yang sering disembunyikan di balik UI/UX yang cantik.
  2. Masalah Likuiditas: Pasar Sekunder yang Palsu.
    Platform selalu bilang, “Kamu bisa jual kapan saja di pasar sekunder kami!” Tapi coba lihat realitanya. Untuk satu unit apartemen senilai 2M yang dipecah jadi 4000 keping, berapa banyak orang yang lagi online dan mau beli kepinganmu hari ini juga? Seringkali, nggak ada. Data internal satu platform (yang bocor) menunjukkan hanya 15% listing jualan di pasar sekunder mereka yang laku dalam 30 hari. Selebihnya ngendap. Jadi, uangmu “terkunci”. Modal Rp 500 ribu memang kecil. Tapi kalau terkunci 3 tahun, ya rugi waktu.
  3. Dividen “Pas-pasan” yang Dimakan Biaya.
    Janjinya bagi hasil sewa. Tapi ingat, ada biaya pengelolaan property manager, biaya platform, asuransi, pajak. Setelah dipotong sana-sini, return bersihnya bisa cuma 3-5% per tahun. Itu kalai unitnya selalu terisi penyewa. Kalau kosong? Ya nol. Kamu dapat capital gain? Cuma kalai ada yang mau beli kepinganmu dengan harga lebih tinggi di pasar sekunder tadi—yang kita tau, likuiditasnya rendah.

Jadi, Inovasi atau Jebakan? Bisa Dua-duanya. Tergantung Kamu.

  • Inovasi kalau kamu lihat ini sebagai cara diversifikasi portofolio dengan modal sangat kecil. Anggap saja seperti reksadana properti yang sangat spesifik. Jangan pernah anggap ini pengganti beli properti fisik.
  • Jebakan kalau kamu pikir ini sama dengan “punya apartemen”, atau berharap ini likuid seperti saham, atau jadi jalan pintas jadi taipan properti.

Common Mistakes Investor Pemula:

  • Tergiur Nama “Apartemen Mewah”: Branded. Tapi lupa, yang penting bukan merk, tapi lokasi, potensi sewa, dan manajemen pengelolanya. Apartemen mewah di lokasi oversupply pun sewaannya susah.
  • Mengabaikan Biaya Keluar Masuk: Banyak yang kaget, waktu mau jual, kena potongan biaya platform dan fee penjualan yang bisa makan 2-5% dari nilai jual. Modal kecil, potongannya terasa banget.
  • Lupa Risiko Makro: Kalau ekonomi lesu dan pasar properti mewah sepi, siapa yang mau sewa? Siapa yang mau beli pecahanmu? Kamu ikut terjun bebas tanpa kendali.
  • “All-In” Modal Kecil: Karena cuma Rp 500 ribu, eh malah diumpanin ke 10 properti berbeda. Akhirnya punya potongan kecil-kecilan di mana-mana, return-nya nggak kerasa, repot lacak, dan makin tidak likuid.

Tips Kalau Mau Coba (Dengan Mata Terbuka):

  1. Riset Platform, Bukan Cuma Propertinya: Platformnya berizin OJK? Model bisnisnya gimana? Mereka dapet untung dari mana (fee? spread jual-beli?)? Baca Terms & Condition-nya, terutama soal penyelesaian sengketa.
  2. Anggap Sebagai “Locked Savings” dengan Potensi Return: Masukkan uang yang benar-benar siap kamu “lupakan” untuk 3-5 tahun ke depan. Jangan masukkan dana darurat atau uang yang bakal kamu butuhin untuk bayar kuliah tahun depan.
  3. Diversifikasi Tipis-Tipis Saja: Cukup pilih 1 atau 2 proyek dengan riset mendalam. Daripada punya 0.001% di 10 tempat, mending punya 0.01% di 1 tempat yang kamu paham betul prospeknya.
  4. Utamakan Likuiditas di Portofolio Lain: Karena investasi ini illiquid, pastikan kamu punya instrumen lain yang sangat likuid (misal: reksadana pasar uang, saham blue chip) untuk kebutuhan mendadak.

Pada akhirnya, investasi fractional real estate ini adalah alat. Seperti gergaji. Bisa buat membangun, bisa juga buat memotong jari sendiri. Dia bukan pengganti kepemilikan properti fisik. Tapi dia bisa jadi pintu masuk untuk belajar dinamika pasar properti, dengan risiko yang—asal kamu paham—terukur.

Jadi, masih mau beli kepingan apartemen mewah? Boleh saja. Tapi jangan bilang kamu “pemilik apartemen”. Bilang saja, kamu punya sedikit saham di sebuah gedung. Lebih jujur, dan nggak bikin ilusi.

7gr3Of3T

Kembali ke atas