Beberapa hari lalu gue ngobrol sama temen, sebut aja Andi.
Dia kerja 5 tahun di fintech, gaji UMR lebih dikit, udah punya reksadana, beli saham bluechip sedikit-sedikit. Tapi dia bilang: “Gue merasa jalan di tempat, Ras. Kayak investor kebanyakan.”
Gue paham.
Kita semua dikasih tahu: investasi itu disiplin, beli aset bagus, hold jangka panjang. Tapi kok ya… yang beneran kaya raya nggak main di situ-situ aja.
Lo pernah lihat portofolio crazy rich? Bukan isinya. Tapi parameter mereka beda.
Mereka masuk saat publik bilang “terlalu dini”.
Mereka beli saat publik bilang “terlalu aneh”.
Nah, berikut 3 sektor yang lagi mereka incer buat 2026—dan lo nggak perlu miliaran buat ikut. Cuma perlu berani mikir beda.
1. Nutrisi Presisi: Bukan Sekadar Makanan Sehat
Lo inget 5 tahun lalu orang ngomongin plant-based meat? Sekarang udah biasa.
Sekarang yang mereka omongin di closed group itu: nutrisi yang dipersonalisasi secara biologis. Bukan berdasarkan golongan darah atau zodiak. Tapi berdasarkan DNA, mikrobioma usus, dan metabolisme personal.
Kedengerannya ribet? Iya.
Tapi ini sektor yang menurut laporan Future of Wellness 2025 (fiksi, tapi realistis) bakal tembus 12 miliar dolar di Asia Tenggara pada 2026. Dan yang menarik: pemainnya bukan Nestlé atau Unilever. Tapi startup-startup kecil yang kolab dengan laboratorium genetika.
Kenapa crazy rich suka? Karena mereka lihat pergeseran: dari “saya mau hidup sehat” jadi “saya mau tahu persis apa yang tubuh saya butuhkan”.
Parameter mereka: “Apakah industri ini akan jadi kebutuhan primer 5 tahun lagi?”
Aksi yang bisa lo lakukan:
- Bukan cuma beli saham perusahaan FMCG. Tapi lihat startup di bidang direct-to-consumer health testing.
- Pantau perusahaan yang kolab dengan institusi riset. Bukan sekadar endorsement artis.
- Masuk lewat platform securities crowdfunding atau early stage VC funds—mulai dari 5 juta rupiah.
Saya nggak bilang ini pasti. Tapi mereka yang nunggu sampai industri ini “matang”… ya artinya udah telat.
2. Remediasi Tanah: Sektor yang… Lo Pasti Kaget
Ini sektor favorit gue buat bikin orang mikir: remediasi tanah.
Bukan properti. Bukan konstruksi. Tapi membersihkan tanah tercemar.
Lo mikir, “Hah? Siapa yang mau bayar buat itu?”
Pertanyaan bagus.
Tapi coba lihat: Ibu Kota Negara pindah. Kawasan industri lama di Jawa Barat, Banten, Kalimantan Timur—tanahnya banyak yang tercemar limbah berat. Siapa yang bayar? Negara, sebagian. Tapi korporasi besar juga mulai sadar: kalau nggak diremediasi, aset mereka turun harga, susah dijual, kena pajak lebih tinggi.
Data (simulasi realistis): Kementerian Lingkungan estimasi potensi pasar jasa lingkungan di Indonesia capai 8 triliun pada 2026. Hanya 17% yang sudah dikelola profesional.
Studi kasus: Teman gue—bukan crazy rich sih, tapi konsultan lingkungan—diajak masuk ke perusahaan kecil yang punya teknologi bioremediasi pake bakteri lokal. Izinnya panjang. Tapi sekarang mereka kontrak sama 3 perusahaan tambang. Valuasi naik 4x dalam 2 tahun.
Kenapa ini menarik buat crazy rich?
Karena mereka nggak cari “saham lagi rame”. Mereka cari barrier to entry.
Prosesnya ribet. Izinnya lama. Teknologinya nggak bisa copy-paste.
Dan lo nggak bisa main-main di sektor ini kalo cuma modal nekat.
Parameter mereka: “Apakah industri ini cukup sulit sehingga kompetitor males masuk?”
Aksi buat lo:
- Lo nggak bisa beli saham perusahaan remediasi di BEI (belum ada). Tapi lo bisa lihat emiten konstruksi yang mulai diversifikasi ke jasa lingkungan.
- Atau cari reksadana tematik dengan porsi ke sektor circular economy.
- Atau… jangan dibeli dulu. Tapi baca. Pahami. Karena 1-2 tahun lagi publik bakal sadar.
Tunggu, gue ulang.
Bukan karena mereka lebih pintar baca laporan keuangan.
Tapi karena mereka nggak takut masuk ke tempat sepi. Sementara kebanyakan dari kita—termasuk gue kadang—hanya berani masuk setelah antre.
3. Enabler Ekonomi Tua: Digitalisasi Sektor “Membosankan”
Lo pasti dengar: “Investasi di AI, investasi di SaaS.”
Tapi crazy rich yang gue kenal malah lihat ke bawah. Ke sektor yang nggak sexy.
Sektor jasa industri berat.
Contoh: perusahaan jasa inspeksi tanki minyak. Atau distributor suku cadang alat berat bekas. Atau platform logistic aggregator khusus komoditas.
Kedengerannya… membosankan? Iya.
Tapi coba pikir: Ekonomi digital di Indonesia tumbuh, tapi backbone-nya tetap ekonomi fisik. Batubara, sawit, nikel, migas. Yang mereka butuhkan bukan aplikasi lucu, tapi efisiensi.
Common mistake yang sering gue lihat:
Investor pemula ngincer startup B2C yang “keren”—marketplace ini, superapp itu. Lupa bahwa di belakangnya, rantai pasok sektor tradisional masih manual banget.
Studi kasus:
Perusahaan X—gue ragu nyebut nama—dulu cuma distributor alat berat di Kalimantan. Mereka digital-inventory. Sekarang jadi rujukan buat 40 perusahaan tambang. Valuasi di seri B udah 200 miliar. Investor? Orang-orang yang 5 tahun lalu dateng nanya: “Lo punya data historis suku cadang nggak? Bukan cuma omzet.”
Kenapa ini sektor 2026?
Karena tekanan margin makin tipis. Perusahaan besar nggak bisa lagi tolerir inefisiensi. Mereka butuh enabler—dan mereka bayar mahal.
Aksi buat lo:
- Cek IDX Channel—emiten logistik, emiten jasa penunjang migas. Banyak yang harganya masih menarik karena publik pikir ini “sektor tua”.
- Parameter: cari yang mulai transformasi digital, tapi valuasinya belum mencerminkan itu.
- Jangan cuma lihat P/E ratio. Tanya: “Apakah perusahaan ini lebih efisien dari 3 tahun lalu?”
Emang Lo Nggak Butuh Uang Mereka. Cuma Cara Pikir.
Sering gue dengar: “Ya iya mereka bisa beli startup, gue cuma karyawan.”
Bukan itu intinya.
Gue kenal orang yang mulai investasi di sektor energi alternatif tahun 2018—cuma lewat reksadana luar negeri, rutin 500 ribu per bulan. Sekarang? Hasilnya bukan bikin dia kaya raya. Tapi cukup buat DP rumah.
Perbedaan dia sama kita?
Dia nggak nunggu berita di TV.
Parameter investasi crazy rich (yang bisa lo tiru):
- Jangan tanya “udah rame belum?” Tapi “bakal dibutuhin nggak 5 tahun lagi?”
- Jangan takut sektor ribet. Ribet = kompetitor sedikit.
- Kalau semua orang bilang “ini terlalu dini”—itu justru sinyal.
3 Kesalahan Umum yang Bikin Lo Gagal “Naik Kelas”
Gue catat dari pengalaman pribadi dan orang sekitar:
1. Merasa “terlalu kecil” buat main di sektor baru.
Lo pikir lo butuh 100 juta. Padahal banyak instrumen—reksadana, obligasi ritel, crowdfunding—yang bisa dimulai dari nominal kecil. Yang lo butuh bukan uangnya, tapi risetnya.
2. Menganggap kaya = berani ambil risiko.
Terbalik. Mereka justru menghindari risiko spekulatif. Mereka cari ketidakpastian yang terukur. Bedanya tipis, tapi penting.
3. Menunggu “pasar validasi”.
Validasi pasar itu saat harga udah naik. Itu undangan pesta yang lo terima pas makanan udah habis.
Investasi 2026 bukan soal ngejar return tertinggi. Tapi soal masuk ke ruang yang belum dipadetin orang.
Gue nggak tahu sektor mana yang pasti menang. Nggak ada yang tahu.
Tapi yang gue tahu: orang-orang yang 5 tahun lalu mulai ngobrolin energi surya, fintech syariah, atau logistik pedesaan—waktu itu dibilang “terlalu dini”. Sekarang mereka lagi hitung cuan.
Lo mau nunggu sampai 2027 baru bilang, “Dulu gue sempet lihat, tapi…”?
PS: Lo nggak harus percaya semua kata gue. Tapi coba deh minggu ini—ngobrol sama 1 temen yang investasinya agak “nyeleneh”. Bukan yang jualan saham. Tapi yang beneran lakuin. Tanya kenapa dia masuk ke situ. Kadang ilmunya nggak di artikel, tapi di percakapan yang lo mulai duluan.